468x60 Ads

Welcome to Blog magizterz.......you are now visiting magizterz.blogspot.com.......THANKS FOR VISIT by magizterz

Pesan Terakhir

“Ayo Ron! Buruan makannya nanti keburu masuk”. Gerutu Tono pada Roni yang tak terlihat menggubris celotehan Roni. “Ih, apaan sich Ton, ganggu orang makan aja”. Balas Winda yang juga duduk di samping Roni. Selain mereka ada juga Deki dan Sinta yang terlihat lebih santai daripada teman-temannya itu. Memang mereka berlima bersahabat karib sudah dua tahun ini selama mereka bersekolah di SMAN Panigoro Jakarta. Hanya Tonolah yang baru bergabung 3 bulan ini. Tono adalah siswa baru yang melakukan urbanisasi dari desa terpencil di pinggiran kemegahan Jogjakarta. Tak pernah Tono bercerita tentang keluarganya,pekerjaan orang tua, apalagi masa kecilnya di desa. Entah itu karena malu atau entahlah, yang jelas Tono adalah seorang dengan perawakan kalem, dengan wajah lugu, dan cenderung pendiam. Itulah sebabnya Tono diajak bergabung dalam persahabatan Roni, Deki, Winda, dan Sinta. Mungkin karena sifatnya yang pendiam yang yang tak banyak bicara, atau karena keluguannya sehingga mudah di mintai tolong, atau apapun, yang jelas mereka berempat sangat menyayangi Tono layaknya keluarga sendiri. “Ayolah kawan, aku belum mengerjakan tugas Bu Beti nih.” Timpal Tono. ”Belum kau kerjakan Ton? Tak biasanya kau lupa sama tugasmu.”Sinta yang tadinya hanya diam tertarik untuk bergabung dalam perbincangan. “Ehm, tidak … tidak ada apa-apa. Hanya aku kemarin banyak yang harus kukerjakan jadi aku tertidur.” Pungkas Tono. Tak terlihat wajah heran dari wajah-wajah keempat teman Tono, karena memang itulah Tono, selalu menjadi pribadi yang tertutup. Bahkan bila ada yang bertanya tentang masalahnya, pastilah dia marah. Jadi Percuma sajalah bila mereka ingin bertanya, bahkan dengan kata-kata mutiara sekalipun. Seperti sudah teballah telinga Tono ini. “Iya, ayo aku juga sudah selesai selesai. Tenang Ton, bolehlah kau pinjam punyaku. Toh, aku juga sering meminta bantuan lo.” Ujar Deki, mencoba menenangkan keadaan. Segera mereka mereka berlima melangkahkan kaki menuju ke kelas yang masih akan di mulai sepuluh menit lagi. Cukuplah buat mengejakan Tugas Tono sebelum Bu Beti datang. Toh, Bu Beti juga sering terlambat masuk kelas. *** “Selamat Pagi Semua…. Teriak Winda yang mencoba menyemarakkan suasana. “Absen sahabat dulu yuk..” tambahnya. “Sinta hadir” “Deki juga donk, kan nada Sinta ada Deki” “Roni…. Roni mana Roni?” Tanya Winda. Tak lama setelah itu, Bruuaakkk Terlihat sesosok pria sok ganteng dengan wajah pas-pas an datang. Anehnya, ia terlihat tak seperti biasanya. Terlihat seperti orang baru saja dikejar-kejar kuntilanak terowongan cassablanca. Bajunya keluar, Rambutnya kacau, dan ada titik darah di ujung celananya. “Sory-Sory, gue hampir terlambat nih. Gue……” Rintih Roni yang masih terengah-engah. “Ngapain aja kamu Ton dikejar anjing? Setan? Atau bapakmu?” Canda Winda. Sontak tertawalah semua. “Le… lebih dari itu Win. Aku ta..tadi nolongin pengemis yang ketabrak mobil. Kasihan banget bro, para banget pokoknya.. Parah..” Jawab Roni terbata-bata. “Di mana Ron, sudah dibawa ke rumah sakit? Wah, kasihan banget itu orang. Untung tadi ada kamu.” Puji Deki. “Ah, kalian ini gitu aja di besar-besarin. Kenal aja enggak kan? Ya sudahlah, sudah ditolong ya sudah. Itu sudah resiko jadi pengemis di kota begini.” Cetus Winda. “Sudah-sudah, daripada pagi sudah rebut, mending kita belajar. Kan nanti kita ada ulangan.” Potong Sinta. Kegaduhan itupun serentak menjadi hening. Tak seorangpun berani berkata sepatah katapun. Sampai, ketua kelas member aba-aba untuk hormat pada ibu guru. “SELAMAT PAGI BU…” Sapa seluruh siswa. Hari ini memang ada ulangan Matematika. Pelajaran yang paling di takuti oleh Roni maupun Deki. Ada yang terlupakan hari ini. Ada sebuah bangku kosong di sebelah tempat duduk Deki. Ya, itulah tempat dimana Tono biasa duduk berjam-jam untuk mengikuti pelajaran yang ada. “Mana Tono? Hey, Tono Mana?” Deki terlihat paling kebigungan. Karena tak kunjung di jawab, Dekipun mempertegas ucapannya. “Teman-teman, Mana si Pendiam itu? Si Tono? Ada yang tahu?” “Oh, iyaTono mana ya? Ia sudah tak terlihat dari tadi pagi.” Tanya Joni sang ketua kelas “Ah, si Tono, menyusahkan saja. Jangankan tahu di mana dia sekarang. Tahu di mana rumahnya, nama orang tuanya, apa pekerjaannya, sampai hobinya saja tidak kok, apalagi dimana dia sekarang” Jawab Winda ketus. “Sudah-sudah, sekarang siapkan selembar kertas dan kau Jon, tolong bagikan soal-soal ulangan ini.”Pangkas Bu Rita yang sedari tadi sudah siap memberikan ulangan. Dengan tenang seluruh siswa mengerjakan soal-soal yang telah diberikan. Tak terlihat satupun siswa yang bertanya jawaban akan soalnya pada teman di dekatnya. Entah itu karena memang bisa mengerjakan dengan baik atau diam karena memang tak bisa mengerjakannya sama sekali. Wajar sajalah, Bu Rita memang terkenal killer di kalangan siswa kelas sebelas. Terlihat mencontek sedikit saja, pastilah diusir dari tahta kelasnya. *** Sudah tiga hari ini Tono tak masuk sekolah. Jangankan ada yang diberitahu kemana rimbanya, surat saja tidak ada. Ingin berkunjung ke rumahnya, tetapi tak tahu dimana alamat pastinya. Karena Tono enggan memberitahukannya. “Wah kebangetan ini Tono, masak ninggalin kita begini tanpa bilang-bilang.” Kata Winda dengan ketusnya. “Sabar Win. Tono kan memang begitu. Selalu ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Mungkin kali ini dia butuh waktu untuk sendiri.” Ujar Sinta menenangkan. “Oh iya, nanti sore kita jadi kerja kelompok di rumah Jhonny kan?” Tanya Deki mengalihkan perhatian. “Masalahnya kita kan nggak tahu rumahnya si jhonny.” Tanya Sinta. “Gampanglah Sin, ada aku dan kamu, kita pasti bisa sampai di sana. Dengan menyatukan hatimu dan hatiku.” Jawab Deky dengan sedikit merayu. “Ah, sudah-sudah kita kumpul ntar sore di rumah gue ya. Tolong datang lebih awal biar kita nggak terlambat.” Pinta Winda. “Oke Boss” Jawab mereka serempak. *** Brumm… Brumm…. Sudah setengah jam lebih keempat sahabat ini belum juga menemukan rumah jhonny. Hampir seluruh sudut kota telah ditanyai tentang alamat rumah sang ketua kelas itu, namun tak satupun mengetahuinya. Sedangkan lima belas menit lagi kerja kelompok akan dimulai. Merekapun mempercepat laju motor mereka melewati jalan perkotaan hingga jalan-jalan tikus. Sudah jauh mereka meninggalkan rumah Winda, hingga mereka baru menyadari telah berada di daerah yang belum sama sekali mereka kenal. Seperti sebuah kampong kumuh di perkotaan. Tempat dimana para Gepeng-Gepeng yang biasa diciduk Satpol PP ini tinggal. Tak seorangpun mereka jumpai berpakaian rapi seperti mereka berempat. Tanpa memperdulikan itu semua, mereka terus saja melenggang menerobos kampung kumuh tersebut. Sampai tiba, tiba di tepi di sudut jalan kampung mereka melihat sesosok lelaki kurus, dengan pakaian compang-camping, sedang merenung sendiri di sebuah gubuk tua di tepi jalan. Dia tidak lain tidak bukan adalah Tono. “TONO????? Hey lihat itu Tono…” Teriak Sinta terlihat tak percaya. “Ayo kita hampiri saja.” Pinta Roni yang sudah sangat ingin bertemu sahabat karibnya itu. Merekapun segera menghampiri Tono. “Hey, Tono?? Sedang apa kamu di sini?”Tanya Roni. “Ton, Jawab donk kita Tanya sama kamu nih.”Balas Winda. Tono terlihat sangat aneh. Bagai Patung yang bernyawa. Diam dan hanya diam sambil melamun yang entah apa itu yang ada di benaknya. Karena tak satupun kata keluar dari mulutnya, merekapun tak kehabisan akal. Mereka menghampiri salah satu warga kampung tersebut dan mulai bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Tono. “Permisi Pak, Maaf mengganggu sebentar, kami ini teman dari Tono, kalau boleh bertanya, sebenarnya apa yang terjadi pada Tono Pak? Sehingga ia tak masuk sekolah?” “Maafkan Tono dek sebelumya, Ia sedanga dalam masa tersulit dalam hidupnya. Ia adalah anak dari desa yang mengadu nasib di kota ini bersama ibunya. Ia bahkan tak punya ayah, sehingga itulah yang mungkin membuat ia menjadi pendiam. Akan tetapi, setelah di sini, ibu Tono justru kebingungan mencari pekerjaan. Maka terpaksalah, ia harus mengemis di perempatan jalan di kota. Kehidupannya sulit, makan saja uang kadang tak cukup. Apalagi tiga hari yang lalu ibunya meninggal dunia…” “Meninggal???” Tanya Roni memotong pembicaraan seperti ia tahu apa yang terjadi. “Iya dek, Tiga hari yang lalu saat beliau mengemis, beliau tertabrak mobil yang sedang melaju kencang di jalan kota dekat alun-alun. Tragis, walaupun sempat ditolong, nyawanya tak tertolong saat perjalanan menuju rumah sakit. Itulah sebabnya Tono tak masuk sekolah mulai tiga hari kemarin. Tono terlihat sangat terpukul dengan kejadian itu. Ia tinggal sebatang kara di kota sebesar ini. Hidupnya hancur, setiap hari ia hanya melamun dan melamun saja. Berulang kali kami berusaha membujuknya untuk kami rawat bersama-sama di sini, iapun tak menjawab.” “Pe…. Pe…. Pengemis??? Ter..tertabrak?? Alun-Alun aaaaaaggghhh” Teriak Roni dengan berlinang air mata. “Kau kenapa Ron? Kenapa lo mendadak histeris? Apa ada hubungannya sama orang yang lu tolong dulu Ron?” Tanya Winda. “Hiks… i,,i iya. hiks… maafkan aku Ton, aku tak tahu bahwa yang ku tolong itu ibumu. Aku menyesal Ton, maafkan aku, aku gagal menyelamatkan ibumu.” Roni tak kuasa menyembunyikan kesedihan hatinya. Bagai orang kesurupan, Roni menangis dan terus menyesali dirinya. Suasana menjadi semakin kacau. Mereka berempat sangat terpukul dengan cerita itu. Kini Tono hanya tinggal sendiri. Semangat hidupnya bagai hilang terkubur bersama ibunya. Air mata membanjiri setiap pipi anak-anak SMA ini. “Sudahlah Ron, ini bukan salahmu. Kita semua juga sedih, dan terpukul juga Ron atas semua kejadian ini. Namun apa boleh buat Tuhan telah berkehendak begini. Kita hanya bisa mendoakan saja Ron.” Tambah Deky. Setelah Berjam-jam berlalu, mereka meminta izin untuk membawa Tono agar dapat hidup bersama-sama dengan mereka. Namun, hal itu tidaklah mungkin. Mereka tak mengizinkannya karena keadaan Tono yang shock berat dan sepeti tak mengenal siapapun. Dengan sedih dan perasaan yang kacau, merekapun kembali pulang ke rumah dengan harapan agar esok hari dapat membawa berita ini ke sekolah dan sekolahpun akan membantu Tono agar dapat melanjutkan hidupnya kembali. *** Keesokan harinya tepat sebelum Roni dan kawan-kawannya sempat memberitakan kabar tentang keadaan Tono, Ibu guru telah lebih dulu memberikan berita yang sangat membuat semakin terpukulnya Roni, Deky, Winda, dan Sinta. Tono sudah meninggal dunia. Tepat setelah mereka berempat pulang. Tono tak kuasa menahan rasa sedih dan beban hidupnya dan hidupnyapun berakhir pada seutas tali yang digantung dan dililitkan di lehernya. Kini Tono sudah tiada. Hidupnya berakir dengan tragis. Kini mereka tidak akan bertemu dengan sahabatnya. Tono hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan, “Selamat tinggal kawan, maafkan atas hidupku, kalian teman terbaikku”. Tamat (Yogi Setyo Utomo)

0 komentar:

Posting Komentar

Random Post